Minggu, 08 Januari 2012

Refleksi

Kutu yang ada di tubuh anjing mampu melompat 300 kali tinggi tubuhnya. Jika kutu itu dimasukkan ke dalam kotak korek api, kutu tersebut akan tetap melompat didalamnya. Setelah 2 hari di keluarkan dari kotak tersebut, sang kutu hanya mampu melompat setinggi ukuran kotak korek api, karena paradigmanya telah berubah tentang luasnya dunia.

Senin, 12 Desember 2011

TETESAN BENING YANG MULAI MEMBEKU


Dulu, tetesan bening selalu mengalir deras saban hari dari ujung pelupuk mata ini. Kala beban dipikul terasa berat, kala perjuangan mengalami masa sulit, waktu sepertiga malam di kamar tak terlewat untuk menumpahkan tetesan bening ini. Kala lingkungan menunjukkan penolakannya, kala musuh-musuh kuffar zholim menebarkan ancamannya, waktu dhuha tetesan bening ini slalu tercurah diatas sajjadah imam di balik mimbar... bahkan tetesan bening ini tak kalah derasnya turun membasahi sajadah lima waktu ketika wajah-wajah kedua orang tua, wajah orang-orang terkasih yang jauh di mata melintas saat bermunajat padaNya... kadang ketika membaca mushaf terhenti di surah Al Israa’:17, At Taubah:9, Al Hajj:40 dan yang lainnya, tetesan bening ini turut menjadi saksi.
Ya, saat ujian tak sanggup diri kita memikulnya, kita butuh kekuatan untuk mengatasinya, pasti sumber kekuatan utama yang kita butuhkan ada pada Sang Maha Pemilik segalanya. Tatkala beban makin berat, tatkala tantangan menghadang, tatkala kita jauh dari orang-orang yang kita kasihi, tatkala jauh dari orang tua, tatkala apa yang kita hajatkan belum tercapai... hanyalah Allah yang maha memberi jalan keluar. Jika kondisi seperti itu, tak sulit bagi kita untuk terjaga di sepertiga malam, tak sulit untuk meluangkan waktu sejenak kala mentari naik sepenggalan untuk menumpahkan tetesan bening dari lubuk hati yang terdalam memelas pada-Nya. Kita yakin sepenuh hati bahwa Dia bisa mengubah segalanya, karena hanya Dia yang menggenggam dan berkuasa atas segalanya. Betapa dekatnya antara kita dengan-Nya kala itu, dan tentu saja Dia maha mendengar serta telah menyiapkan jalan terbaik yang diskenariokan untuk kita jalani.
Sekarang, skenarioNya berjalan seperti apa yang diharapkan. Segala nikmatnya tercurah bagai hujan lebat turun dari langit, diri ini terlena menikmati curahan-Nya. Akibatnya, tetesan bening yang dulu biasa mengalir kini mulai membeku. Kala ujian darinya tidak seberat dulu, kala musuh-musuh zholim tak lagi menebar ancaman, kala kehangatan bersama keluarga dan orang-orang terkasih telah menyelimuti diri, kala apa yang dihajatkan berhasil terlaksana.... tak seharusnya tetesan bening itu tak bisa keluar sama sekali.
Apakah ini sudah jadi sifat makhluk yang bernama manusia? Dia memohon kepada Rabb-nya kala susah, namun kala Rabb-nya telah mengabulkan pintanya, ia kemudian terlupa...
“Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur." Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Yunus : 22 – 23)

Rabb... jadikan hamba selalu bersyukur atas ni’mat-ni’mat-Mu. Jadikan hamba selalu rindu untuk menjaga hubungan dekat dengan-Mu. Jadikan tetesan bening yang baru turun malam ini menjadi saksi kerinduan hamba untuk terus dekat dengan-Mu... dan jadikanlah orang-orang yang dekat dengan lingkungan hamba saat ini dan seterusnya menjadi orang-orang yang saling mengingatkan untuk menjaga kedekatan dengan-Mu, sehingga hati-hati kami berpadu berhimpun dalam naungan cinta-Mu, bertemu dalam taat pada-Mu, bersatu dalam dakwah-Mu serta berpadu menegakkan Syariah dalam kehidupan, kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah Cintanya, tunjuki Jalannya, terangi dengan cahaya-Mu yang tak pernah padam dan indahnya Tawakkal pada-Mu, hidupkan dengan makrifat-Mu, matikan dalam syahid di jalan-Mu.... Engkaulah Pelindung dan Pembela...
NuansaIndah, sepertiga malam Dzulhijjah 32

Membuat Telaga di Tengah Gurun

Membuat Telaga di Tengah Gurun


Memacu sepeda motor di gelap malam dari kabupaten sebelah, menerjang jalan berlubang, membelah kabut malam nan dingin tersapu hujan rintik, ditemani lampu motor yang mulai redup, cuma lambaian pucuk cemara diterpa angin yang membuat suasana tidak hening, tak ada mobil yang lewat, tak ada rumah penduduk, kalau adapun tentu pintu rumahnya sudah tutup untuk menahan dingin malam diluar. Kali ini agak kemalaman pulang dari menebar secercah cahaya di negeri tetangga. Berjam-jam menghirup kabut embun dijalan cukup untuk menambah kelabu paru-paru ini, batuk kering dengan kecepatan 3 getaran/ detik tak cukup melegakan sesak di dada. 
Itu baru setengah perjalanan, minggu depan harus menempuh perjalanan 3 kali lebih lama untuk mengisi energi cahaya, mencari pusaran angin yang bisa membakar energi cahaya untuk bisa bersinar lebih terang lagi. Melintasi hutan cemara nan dingin, walau tak rutin setiap minggu, energi yang dibawa cukup untuk nyala cahaya beberapa minggu, sebanding dengan jarak dan waktu yang terpakai untuk menjemputnya. Cahaya itu harus dibagi kepada jiwa-jiwa perindu hidayah yang jumlahnya tak terlalu banyak dinegeri ini.

Itu mungkin belum seberapa dibanding dengan perjuangan para kader dakwah yang berada di beberapa tempat, kita mungkin pernah membaca di majalah tentang perjuangan seorang ustadz yang berjalan kaki dari satu kota ke kota lain untuk mengisi halaqoh, bayangkan hanya dengan berjalan kaki. Ataupun kita pernah juga membaca kisah seorang ummahat di Aceh mengisi halaqoh ke kabupaten tetangganya dengan mengendarai sepeda motor selama dua jam melintasi hutan dalam keadaan hamil. Atau mungkin juga kita juga perbah mendengar kisah seorang ustadz generasi awwalun dakwah ini di Sumatera Barat dimana beliau berjualan es keliling yang sebagian hasil usahanya digunakan untuk membiayai perjalanan dakwahnya ke propinsi tetangga, mempuh perjalanan naik bis dari kota Padang – Jambi – Palembang itupun sering tidak dapat tempat duduk, bayangkan betapa pegalnya badan jika berdiri sepanjang perjalanan itu.

Suatu yang sudah jelas, seorang kader dakwah yang sudah merasakan kemaslahatan dakwah ini dalam dirinya tentu akan selalu merindukan eksistensi dakwah ini dimanapun ia berada, rindu majelis ilmu yang sudah menjadi kebutuhan fikriyah dan jasadiyahnya. Seorang kader dakwah tentu akan merasa ada kekurangan ataupun kehampaan jika tak ada asupan energi tarbiyah mengisi relung-relung jiwanya. Terlebih jika seorang kader dakwah berada pada negeri yang tidak ada teman sefikrohnya bahkan juga tak ada teman seakidah yang dibatasi oleh teritorial yang cukup luas rentangnya untuk mencapai komunitas dakwah. Tentu saja jika keimanan yang sudah tertanam dengan baik akan membuatnya semakin rindu untuk ‘menyongsong cahaya’ berjumpa dalam majelis ilmu, majelis ukhuwah yang disana ia bisa saling mengingatkan, saling mengisi energi sebagai bekal untuk menebar cahaya kepada yang membutuhkannya. Ibaratnya seseorang yang berada ditengah gurun pasir yang panas, tentu ia akan mencari sumber air, ia akan mengeluarkan semua energinya untuk mendapatkan air tersebut.

Beruntunglah kader dakwah yang tempat menghadiri majelis ilmunya masih pada negeri yang tidak terlalu membutuhkan pengorbanan untuk mencapainya. Beruntunglah kita yang tempat halaqohnya masih di dalam satu kota, bisa naik angkot 10 menit nyampe, atau masih satu kecamatan, ataupun cuma satu DPRa yang letaknyapun dibelakang pojok tempat tinggal kita. Jika kondisi sudah seperti itu masih ogah-ogahan datang betapa ruginya kita, sebab betapa banyaknya kemaslahatan yang bisa kita peroleh dalam majelis ilmu tersebut. Bisa kita renungkan, dakwah yang dibawa Rasulullah SAW mulai berkembang diawali dari gerakan halaqohnya hingga bisa menebus penjuru dunia, membawa dunia ke peradaban mulia.

Wahai kader dakwah, lihatlah lingkungan sekeliling kita, tentu masih banyak yang belum mencicipi peradaban seperti yang di ajarkan Rasulullah, adalah tugas seorang ‘laskar cahaya’ untuk menebar ‘secercah cahaya’ kepada jiwa-jiwa perindu hidayahNya, mereka butuh TELAGA DI TENGAH GURUN kehidupan mereka. Tugas kita membuatkan telaga itu, tentunya kita juga harus mencari sumber air / oase untuk mengisinya.....

Diposting 2 tahun yang lalu Suatu malam, sekembali dari negeri tanah sudut pinggiran danau Toba..

Menjadi Penyelamat Tak Mengenal Siaran Tunda

Menjadi Penyelamat Tak Mengenal Siaran Tunda

14 Rabiul Akhir tahun ini berlalu begitu cepat, tak bisa waktu ini dipending agak sejenak. Tidak terasa sudah berkurang setahun lagi masa dalam hidup ini. Masa yang seharusnya menjadi masa emas harus tertunda beberapa saat lagi. 
14 Rabiul akhir 1405, seberkas cahaya baru terbit ke dunia ini, terbit perlahan mulai menyeruakkan cahayanya. Kala cerah tertiup angin cahayanya semakin terang menyinari sekelilingnya, kadang cahayanya juga terpantulkan kaca – kaca disekelilingnya hingga berkilauan, kadang cahayanya juga redup bahkan tidak kelihatan karena tertutup awan kelabu
Begitulah filosofi cahaya, harus membagi sinarnya ke semua penjuru, karena sinar cahaya itu dibutuhkan banyak individu-individu sebagai penerang, sebagai sumber energi, sebagai kebutuhan utama untuk kelangsungan hidup, dan lain sebagainya.

Kita semua terlahir ke dunia ini dituntut berperan sebagai ‘cahaya’. Sudah menjadi fithrah manusia menginginkan terang, manusia diberikan naluri dan hati nurani untuk memilih jalan yang terang dan menghindari jalan kegelapan, dan manusia sebetulnya juga memilki naluri dan nurani untuk mengajak sekelilingnya menuju jalan yang terang dan mencegah sekelilingnya memasuki jalan kegelapan. 

Sesungguhnya setiap manusia itu mempunyai potensi cahaya dalam dirinya. Ada yang cahayanya menyala sangat terang hingga bisa dimanfaatkan banyak individu di sekelilingnya, ada juga yang cahayanya tertutup awan kelabu hingga tak bisa terlihat, padahal cahayanya itu terus menyala, akan tetapi dibiarkan terus ditutupi awan kelabu, awan kelabu itu harus disingkirkan bisa dengan bantuan angin, bisa juga dengan cara meningkatkan energi cahaya itu sendiri untuk mereduksi awan kelabu itu. Yang jelas cahaya sangat dibutuhkan banyak individu yang merindunya.

Kita terlahir sebagai manusia diberikan tugas sebagai penebar cahaya menyinari sisi-sisi gelap agar bisa terlihat, dalam arti manusia diberikan kewajiban dari Rabb nya untuk mengajak sekelilingnya menuju jalan yang benar yang di ridhoi Rabb nya dan mencegah keterjerumusan ke jalan yang tidak benar atau sesat (amar ma’ruf nahi munkar). Dengan adanya potensi cahaya dalam diri setiap manusia itu, kita dituntut untuk menjadi penyelamat, karena sangat banyak sekali yang butuh diselamatkan dengan cahaya yang kita tebar, setidaknya bisa menjadi petunjuk dalam jalan kelam sehingga tidak ada yang tersesat menabrak karang, menabrak tebing ataupun terjun ke jurang yang dalam nantinya.

Jika potensi cahaya itu sudah termanfaatkan dengan baik, maka segeralah untuk menebarkan sinar, karena masih sangat banyak lorong-lorong kelam, ruang-ruang suram dan lembah-lembah gelap yang banyak dilalui individu-individu butuh penerangan secercah cahaya, di tempat itu juga banyak pohon-pohon kehidupan yang membutuhkan cahaya untuk kelangsungan tumbuhnya peradaban yang menhasilkan buah peradaban yang baik. Jangan sampai ada yang terbentur dinding ataupun ada yang duluan terjun ke jurang karena kita terlambat memberikan secercah cahaya.
Jangan sampai pohon-pohon peradaban yang lama merindukan sinar cahaya itu duluan ditebang oleh yang tidak berhak menebangnya sebelum menghasilkan buah peradaban yang baik. 

JANGAN SAMPAI TERLAMBAT, jangan sampai semua di sekeliling kita terlanjur terjun duluan ke jurang dan jangan sampai semua pohon peradaban keburu ditebang sebelum berbuah hingga kita tak bisa lagi menemukan buah dari peradaban yang baik. Jangan sampai ada penyesalan nantinya, Jadilah penyelamat yang terbaik........



Diposting 2 tahun yang lalu
(dekat tanah sudut nan gersang, Rabiul Akhir kala cahaya sepenggalan)

Minggu, 30 September 2007

Senangkan Orang Tua Semasa Hidup…

(berikut ini sebuah kisah nyata yang dikirim ke e-mail ana........ mudah-mudah bisa menggugah hati dan menjadi bahan renungan kita bersama..... Amin)
.........................
Usia ayah telah mencapai 70 tahun, namun tubuhnya masih kuat. Dia mampu mengendarai sepeda ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk belanja keperluan sehari-hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6 tahun lalu, ayah sendirian di kampung. Oleh karena itu kami kakak-beradik 5 orang bergiliran menjenguknya.

Kami semua sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari kampung halaman di Teluk Intan. Sebagai anak sulung, saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Setiap kali saya menjenguknya, setiap kali itulah istri saya mengajaknya tinggal bersama kami di Kuala Lumpur.

"Nggak usah. lain kali saja.!"jawab ayah. Jawaban itu yang selalu diberikan kepada kami saat mengajaknya pindah. Kadang-kadang ayah mengalah dan mau menginap bersama kami, namun 2 hari kemudian dia minta diantar balik. Ada-ada saja alasannya.

Suatu hari Januari lalu, ayah mau ikut saya ke Kuala Lumpur. Kebetulan sekolah masih libur, maka anak-anak saya sering bermain dan bersenda-gurau dengan kakek mereka. Memasuki hari ketiga, ia mulai minta pulang. Seperti biasa, ada-ada saja alasan yang diberikannya. "Saya sibuk, ayah.tak boleh ambil cuti. Tunggulah sebentar lagi. akhir minggu ini saya akan antar ayah," balas saya. Anak-anak saya ikut membujuk kakek mereka. "Biarlah ayah pulang sendiri jika kamu sibuk. Tolong belikan tiket bus saja yah." katanya yang membuat saya bertambah kesal. Memang ayah pernah berkali-kali pulang naik bus sendirian.

"Nggak usah saja yah." bujuk saya saat makan malam. Ayah diam dan lalu masuk ke kamar bersama cucu-cucunya. Esok paginya saat saya hendak berangkat ke kantor, ayah sekali lagi minta saya untuk membelikannya tiket bus. "Ayah ini benar-benar nggak mau mengerti yah. saya sedang sibuk, sibuuukkkk!! !" balas saya terus keluar menghidupkan mobil.

Saya tinggalkan ayah terdiam di muka pintu. Sedih hati saya melihat mukanya. Di dalam mobil, istri saya lalu berkata, "Mengapa bersikap kasar kepada ayah? Bicaralah baik-baik! Kasihan khan dia.!" Saya terus membisu.

Sebelum istri saya turun setibanya di kantor, dia berpesan agar saya penuhi permintaan ayah. "Jangan lupa, bang.. belikan tiket buat ayah," katanya singkat. Di kantor saya termenung cukup lama. Lalu saya meminta ijin untuk keluar kantor membeli tiket bus buat ayah.

Pk. 11.00 pagi saya tiba di rumah dan minta ayah untuk bersiap. "Bus berangkat pk. 14.00," kata saya singkat. Saya memang saat itu bersikap agak kasar karena didorong rasa marah akibat sikap keras kepala ayah. Ayah tanpa banyak bicara lalu segera berbenah. Dia masukkan baju-bajunya kedalam tas dan kami berangkat. Selama dalam perjalanan, kami tak berbicara sepatah kata pun.

Saat itu ayah tahu bahwa saya sedang marah. Ia pun enggan menyapa saya.! Setibanya di stasiun, saya lalu mengantarnya ke bus. Setelah itu saya Pamit dan terus turun dari bus. Ayah tidak mau melihat saya, matanya memandang keluar jendela. Setelah bus berangkat, saya lalu kembali ke mobil. Saat melewati halaman stasiun, saya melihat tumpukan kue pisang di atas meja dagangan dekat stasiun. Langkah saya lalu terhenti dan teringat ayah yang sangat menyukai kue itu. Setiap kali ia pulang ke kampung, ia selalu minta dibelikan kue itu. Tapi hari itu ayah tidak minta apa pun.

Saya lalu segera pulang. Tiba di rumah, perasaan menjadi tak menentu.Ingat pekerjaan di kantor, ingat ayah yang sedang dalam perjalanan, ingat Istri yang berada di kantornya. Malam itu sekali lagi saya mempertahankan ego saya saat istri meminta saya menelpon ayah di kampung seperti yang biasa saya lakukan setiap kali ayah pulang dengan bus. Malam berikutnya, istri bertanya lagi apakah ayah sudah saya hubungi. "Nggak mungkin belum tiba," jawab saya sambil meninggikan suara.

Dini hari itu, saya menerima telepon dari rumah sakit Teluk Intan."Ayah sudah tiada." kata sepupu saya disana. "Beliau meninggal 5 menit yang lalu setelah mengalami sesak nafas saat Maghrib tadi." Ia lalu meminta saya agar segera pulang. Saya lalu jatuh terduduk di lantai dengan gagang telepon masih di tangan. Istri lalu segera datang dan bertanya, "Ada apa, bang?" Saya hanya menggeleng-geleng dan setelah agak lama baru bisa berkata, "Ayah sudah tiada!!"

Setibanya di kampung, saya tak henti-hentinya menangis. Barulah saat Itu saya sadar betapa berharganya seorang ayah dalam hidup ini. Kue pisang, kata-kata saya kepada ayah, sikapnya sewaktu di rumah, kata-kata istri mengenai ayah silih berganti menyerbu pikiran.

Hanya Allah yang tahu betapa luluhnya hati saya jika teringat hal itu.Saya sangat merasa kehilangan ayah yang pernah menjadi tempat saya mencurahkan perasaan, seorang teman yang sangat pengertian dan ayah yang sangat mengerti akan anak-anaknya. Mengapa saya tidak dapat merasakan perasaan seorang tua yang merindukan belaian kasih sayang anak-anaknya sebelum meninggalkannya buat selama-lamanya.

Sekarang 5 tahun telah berlalu. Setiap kali pulang ke kampung, hati saya bagai terobek-robek saat memandang nisan di atas pusara ayah. Saya tidak dapat menahan air mata jika teringat semua peristiwa pada saat-saat akhir saya bersamanya. Saya merasa sangat bersalah dan tidak dapat memaafkan diri ini.

Benar kata orang, kalau hendak berbakti sebaiknya sewaktu ayah dan ibu masih hidup. Jika sudah tiada, menangis airmata darah sekalipun tidak berarti lagi.

Kepada pembaca yang masih memiliki orangtua, jagalah perasaan mereka. Kasihilah mereka sebagaimana mereka merawat kita sewaktu kecil dulu.

Don't find love, let love find you. That's why it's called falling in love, because you don't force yourself to fall, you just fall…

Selasa, 18 September 2007

Tadabbur........Jangan cuma Baca saja!

Al-Quran sesungguhnya merupakan kitab yang berisi petunjuk dasar untuk hidup di alam dunia. Dengan menggunakan petunjuk itulah, kita diminta oleh Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah dalam arti luas, bukan terbatas pada ruang lingkup ritual dan sakral, tetapi seluruh aplikasi kehidupan manusia sesungguhnya bagian dari ibadah. Tanpa menggunakan petunjuk itu, maka apapun yang kita niatkan sebagai ibadah akan sia-sia.
Maka selayaknya sebagai muslim, kita bukan sekedar hanya membaca Al-Quran sebagai ritus ibadah, tetapi lebih dari itu, seharusnya kita mempelajari maknanya, mendalami esensi isinya, serta pengimplementasikan perintah-perintah yang ada di dalamnya menjadi suatu tindakan yang nyata.
Al-Quran sendiri telah mengumpamakan orang yang membaca kitab namun tidak mengerjakan isinya seperti layaknya keledai yang memanggul kitab.
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS. Al-Jumu'ah: 5)
Maka menjadi kewajiban kita untuk mempelajari isi kitabullah, sebagaimana ciri orang yang bersifat rabbani.
Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (QS. Ali Imran: 79)
Perintah untuk melakukan tadabbur Al-Quran juga kita dapati sebagai sebuah keharusan sebagai seorang muslim.
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quraan ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad: 24)

Rabu, 12 September 2007

RENUNGAN JELANG RAMADHAN


Ketika Rasullullah sedang berkhotbah pada suatu Sholat Jum'at (dalam bulan Sya'ban), beliau mengatakan Aamin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Aamin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Aamin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Aamin sampai tiga kali. Ketika selesai sholat jum'at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: "Ketika aku sedang berkhotbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah aamin-kan do'a ku ini," jawab Rasullullah. Do'a Malaikat Jibril itu adalah sbb: "Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
- Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
- Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami istri;
- Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya."
Maka Rasullah pun mengatakan Aamin sebanyak 3 kali.
Wallahualam bishowab



Tiada yang sempurna ,

kecuali Allah Yang Maha Kuasa

Tiada yang kekal makhluk didunia

Salah dan dosa pasti ada diantara kita

Pintu ma'af adalah jalan ke syurga

Allah Maha Pengampun terhadap makhluknya

Ungkapan yang tulus dari lubuk hati terdalam



Ramadhan sudah diambang pintu,
Jika Allah berkehendak insyaAllah kita akan menemui Ramadhan penuh barokah.
Semoga gelar taqwa Insya Allah akan menjadi milik kita yang
berharga sebagai modal langkah kita selanjutnya
Salah paham, kesedihan, ego, sakit hati, adalah proses
dari kehidupan kita.



Semoga dengan puasa mempertemukan kita dengan Keagungan Lailatul Qadar dan

kita semua menjadi pilihanNya untuk dikabulkan do'a - do'a dan
kembali menjadi fitrah
Amien..


FAJRI MUIZZADIN AL GHIFARY
mengucapkan ,


MOHON MAAF LAHIR & BATIN




Wassalam